Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

Ambisi si ratu air


Ambisi Si Ratu Air
Kamis, 08 Desember 2005
Oleh : Teguh S. Pambudi
Anak terbuang ini membuktikan bahwa kekurangan bukanlah halangan untuk maju. Bagaimana ia bisa menjadi salah satu orang terkaya Asia Tenggara? Dan apa lagi ambisi besarnya?
Hyflux Ltd. dan Olivia Lum. Inilah dua nama yang menjadi sorotan Forbes, September lalu ketika membincangkan peringkat orang terkaya di Asia Tenggara. Apa istimewanya? Hyflux adalah perusahaan water treatment terbesar di Asia Tenggara yang sudah merambah Cina, India dan Timur Tengah, dengan visi menjadi pemain global. Adapun Lum, CEO dan Presiden perusahaan itu, merupakan satu-satunya perempuan yang berada dalam daftar orang terkaya Forbes, sekaligus yang termuda (45 tahun).

Forbes tentu tidak sembarang menyoroti keduanya, terutama Lum sebagai pendiri dan pengelola Hyflux.  Lum menapak ke posisi sekarang dengan sebuah cerita yang luar biasa. Sekarang, kinerja Hyflux amatlah kinclong. Dalam kurun 8 tahun terakhir, pendapatan perusahaan telah meningkat rata-rata 55% mencapai US$ 53 juta. Tahun ini, pendapatan ditaksir mendekati US$ 180 juta. Harga saham pun telah meningkat sejak listing di bursa Singapura tahun 2001, dari US$ 0,19 menjadi US$ 2, sementara saham Lum di Hyflux kini mencapai US$ 240 juta. Adapun kapitalisasi pasar Hyflux mencapai US$ 650 juta.

Kisah Lum dikatakan luar biasa karena merunut ke belakang, tak ada seorang pun yang berani memprediksi, apalagi menjamin perjalanan hidupnya. Awal mula Lum menjadi pebisnis, sungguh sangat tidak meyakinkan. Bayangkan, ia ditinggalkan saat masih bayi merah di sebuah rumah sakit di Malaysia (hingga kini dia tak punya petunjuk siapa orang tua biologisnya) tahun 1960. Lum diadopsi seorang janda miskin -- yang kelak dipanggilnya nenek -- berusia 63 tahun yang punya kebiasaan jelek: berjudi.

Bersama empat anak adopsi lainnya, Lum tingal di rumah yang amat sederhana -- yang akan banjir selama hujan deras tiba -- di Kampar, Negara Bagian Perak, Malaysia. “Kami meletakkan bata di lantai untuk berjalan,” ujarnya mengenang saat hujan datang. Ia pun mengingat dengan baik bagaimana buruknya situasi yang dialaminya ketika kecil. “Setiap pagi, ketika bangun, saya mendengar orang menangis, menggerutu dan berkelahi karena kemiskinan,” katanya sewaktu diwawancarai China Post, 7 Oktober lalu.

Bagi sebagian orang, situasi yang buruk tersebut, boleh jadi membuat putus asa, atau mendorong pada situasi yang lebih jelek lagi. Namun, Lum punya hasrat kuat untuk memperbaiki nasibnya. Dan ia percaya, pendidikan menjadi jalan keluar dari lorong kegelapan sekaligus mengangkat derajat kehidupannya.

Maka pada 1976, di usia 16, Lum pun berangkat ke Singapura, negeri yang dipandangnya bisa memberi fasilitas pendidikan yang lebih baik. Di sini, ia bersekolah di Tiong Bahru Secondary School. Kemudian masuk Hwa Chong Junior College, selanjutnya Universitas Nasional Singapura (National University of Singapore) dan ia lulus sebagai sarjana kimia di tahun 1986.

Selama di Singapura, Lum bekerja serabutan demi mempertahankan hidup, sekolah, dan cita-cita untuk memperbaiki nasibnya. Untuk kuliah, ia mencari beasiswa. Sementara untuk membiayai hidup, ia bekerja apa saja. Tak heran, pada akhir pekan, ketika teman-temannya asyik jalan-jalan, Lum justru ada di department store untuk menjajakan apa saja, mulai dari kosmetik sampai detektor asap.

Toh, ia memandang itu semua sebagai bekal yang kelak sangat berguna. “Itu adalah pengalaman yang amat berharga buat saya. Saya belajar bagaimana mendekati orang, dan mengukur respons mereka. Ini semua penting ketika saya mengawali bisnis,” katanya seperti tertuang dalam tulisan From Small-Town Orphan to Big Boss, yang dimuat di buku kisah sukses pengusaha Singapura, Real Money (2002).

Keadaan ekonomi mulai membaik sewaktu Lum bekerja di GlaxoSmithkline sebagai ahli kimia. Di sini ia mendapat gaji US$ 40 ribu setahun yang membuatnya sanggup membeli apartemen sekaligus mobil. Namun, karena yakin menjadi entrepreneur bisa lebih memperbaiki derajat kehidupannya, pada 1989 Lum mengambil keputusan nekad: keluar dari GlaxoSmithkline, dan berwirausaha. Maka lahirlah Hyflux, perusahaan distribusi peralatan water treatment. Bisnis air, dalam hemat Lum adalah bisnis yang prospektif, terlebih Singapura sangat tergantung pada pasokan air dari jirannya, Malaysia.

Untuk mendirikan Hyflux, Lum memang benar-benar berjudi. Selain meninggalkan Glaxo yang selama 3,5 tahun menjadi tempatnya mencari nafkah, ia juga melego aset-aset penting yang telah dibelinya dengan susah payah. Lum menjual mobil dan apartemennya. Lalu, dengan uang US$ 12 ribu ia mendirikan Hyflux.

Di awal berdiri, Hyflux benar-benar perusahaan yang bisa dipandang sebelah mata. Karyawannya hanya tiga orang. Bersama merekalah Lum bersaing dengan 20 perusahaan sejenis. Ditanya ambisinya saat itu, ia berujar singkat. “Saya tak punya rencana bisnis, saya hanya tahu air adalah bisnis yang bagus.”

Maklum saja Lum tak punya rencana besar. Di awal Hyflux berdiri, ia belum punya pelanggan yang hebat. Ia lebih sering mengendarai motor sendirian dari Jurong ke Batu Pahat, mengetuk pintu pabrik (door to door) untuk menawarkan water filter, dan selanjutnya seluruh uang yang dia peroleh direinvestasi buat bisnisnya.

Tak puas dengan hanya menjual peralatan water treatment, Lum pun menambah skill-nya. Mau tahu caranya? Karena ingin menawarkan jasa water treatment, ia pun ikut kursus pengelasan pipa ledeng profesional!  Hebatnya, ia lulus dengan nilai sempurna. Dan kemudian, situasi bak bola salju berputar setelah ia memiliki keahlian ini. Proyek-proyek water treatment menghampirinya. Yang lebih hebat lagi, Lum yang mengerjakan semua proyek awal water treatment milik Hyflux. “Jika Anda melihat pipa-pipa ledeng yang dipatri pada proyek-proyek awal, itu semua saya yang mengerjakan,” ujarnya penuh rasa bangga. “Saya harus memastikan ini adalah pekerjaan yang baik, sehingga saya melakukannya.”

Kepuasan pelanggan memang menjadi kehirauan wanita yang hingga kini masih melajang ini. Dan itu pulalah yang akhirnya membuat para pelanggannya terus datang, bahkan mengundangnya ke mancanegara untuk membantu mengurusi penyediaan air bersih. Ke Cina, misalnya. Di negeri ini, tepatnya di Shanghai, Lum mulai mengepakkan sayap di tahun 1994. Ia melayani perusahaan Singapura yang mulai membangun fasilitas manufaktur di Cina, seperti MMI Holdings dan Goldtron.

Buat para kliennya di Cina, Lum benar-benar berupaya untuk membuat mereka puas. Tak seperti gaya birokratis Jepang dan Barat yang terkadang kental dengan birokratisme, Lum menjauhi itu semua. “Jika ada persoalan di lokasi kerja, dia akan terbang langsung dari Singapura ke Cina keesokan harinya untuk menyelesaikan persoalan,” ujar analis DBS Vickers Securities Singapura, Eddy Loh (DBS adalah underwriter IPO-nya Hyflux di tahun 2001). Sikap inilah yang kelak membuat banyak pejabat di Cina terkesan dan kemudian mengundang Lum untuk terlibat dalam banyak proyek water treatment di negeri itu. Kelak, proyek-proyek di Cina sendiri menyumbang sekitar 40% pendapatan Hyflux pada 2004.

Di satu sisi, sikap menjaga kepuasan konsumen memang membuat klien terkesan. Namun di sisi karyawan, bisa menjadi hal yang memberatkan. Sekadar ilustrasi, Lum yang terlihat selalu sibuk dan tergesa-gesa, bahkan melarang kata-kata “urgent” atau “important” dalam e-mail dan memo perusahaannya. “Segalanya adalah ‘lakukan sekarang juga’,” ujar juru bicara Hyflux, Freddy Soon. Ya, “do it now” menjadi mantra budaya korporat di Hyflux.

Kendati terasa memberatkan, justru itulah yang mendorong Hyflux berkembang begitu pesat. Dalam rentang 16 tahun, perusahaan ini bukan saja menguasai Asia Tenggara dan menjadi pemain penting di Cina (sekarang tengah menangani  proyek di 20 kota, termasuk Beijing dan Shanghai), tapi juga merambah ke India dan Timur Tengah (menandatangani kontrak senilai US$ 400 juta untuk sistem water treatment di Dubai). Sekarang, Lum bahkan telah memancang ambisi lebih tinggi lagi: mencetak pendapatan hingga US$ 700 juta pada 2010, dan ingin menjadikan Hyflux perusahaan multimiliar dolar. “Kami telah menjadi perusahaan terbesar di industri ini di Asia Tenggara. Kami ingin menjadi salah satu yang terbesar di Asia,” tekadnya.

Tak sedikit yang meyakini tekad itu akan diraih. Maklum, riwayat hidupnya telah mengundang decak kagum banyak pihak. “Dia mulai dari skala kecil dan telah mengembangkan Hyflux menjadi perusahaan yang mapan. Determinasi dan wawasannya yang jauh ke depan menjadikannya seorang pemimpin yang baik,” Irvine Chiam, analis dari Westcomb Financial di Singapura, memuji.

Atas segala sepak terjangnya itu, Lum telah meraih banyak penghargaan. Pada 2003, misalnya, ia menjadi Ernst & Young Entrepreneur of the Year Singapura, dan tahun berikutnya (2004) Hyflux dinobatkan menjadi Investor Choice Awards di Singapura.

Meski hebat, tak sedikit juga yang meragukan akankah  Water Queen -- demikian ia dijuluki -- benar-benar menjadi yang terbesar. Pasalnya, para pemain besar semacam Suez (Prancis), USFilter dan GE juga akan terus merangsek pasar. Selain itu, segelintir analis juga melihat bahwa ketika Hyflux merilis pendapatan kuartal kedua pada Agustus lalu, sesungguhnya bukan semua karena faktor kinerja penjualan. Sekalipun laba bersih mencapai US$ 10 juta, yang berarti tiga kali lipat dibanding 2004, para investor memfokuskan pada fakta bahwa sebagian besar laba itu datang dari penjualan aset, seperti gedung. Tanpa “bantuan” itu, diyakini laju laba Hyflux tidak seimpresif sekarang.

Toh, Lum tetap optimistis. Ketika ditanya sanggupkah ia bertarung melawan para pesaingnya tersebut, Lum menjawab ringan tapi meyakinkan. “Saya tetap lincah. Ini adalah periuk nasi saya. Dan saya amat lapar.”

Rasa lapar Lum bukan tanpa alasan. Mengacu pada Asian Development Bank, sekitar 830 juta orang di negara-negara berkembang tak punya akses ke air minum sehat, dan lebih dari 2 miliar jiwa kekurangan fasilitas sanitasi. “Begitu orang melihat bahwa mereka tak bisa lagi menggunakan cara tradisional untuk membersihkan air sungai yang terpolusi, maka metode lama tak bisa lagi bertahan dalam kontek kualitas,” kata Lum penuh keyakinan. “Seiring sungai dan sumber-sumber air terpolusi, akan ada permintaan yang besar atas pemurnian air untuk diminum, dan kebutuhan industri atas teknologi penggunaan air yang lebih aman, juga meningkat,” imbuhnya.

Alasan lain yang membuatnya optimistis adalah tak seperti rivalnya, ia mengklaim Hyflux adalah salah satu dari sedikit perusahaan di dunia yang menyajikan full water solution, sejak rekayasa dasar hingga pengelolaan proyek build-own-operate. Kebanyakan rival Hyflux menawarkan solusi yang lebih sedikit, karena kapabilitasnya juga terbatas.

Para analis jelas boleh saja pro dan kontra. Namun buat Lum, kini ia menjadi figur yang amat terpandang: Si Ratu Air, yang bahkan disegani oleh PM Singapura karena membangun pabrik penyulingan air laut pertama untuk negeri itu. Dan Hyflux yang dibesutnya dengan susah payah, kini telah menjelma jadi pemain yang disegani. Merunut ke belakang, siapa yang bisa menyangka kerja keras seorang anak yang terbuang akan bisa seperti ini?

Penikmat kerja vs penikmat hasil

Tahukah Anda bahwa terdapat 2 jenis manusia, yang jika dilihat dari
gaya kerjanya terdiri dari jenis Penikmat Kerja dan jenis Penikmat
Hasil?

Penikmat Kerja adalah mereka yang berorientasi pada proses, sedangkan
Penikmat Hasil adalah mereka yang berorientasi pada hasil akhir.

Dari keduanya, manakah yang lebih baik?

Tipe Penikmat Kerja (PK) cenderung menikmati setiap tahapan dari
pekerjaan mulai dari awal hingga akhir. Sejak dari pekerjaan baru
terselesaikan 5%, 10%, 20% , 40%, 80% sampai akhirnya tuntas 100%,
seorang PK selalu menikmati hasil karyanya tahap demi tahap secara
detail.

"Menikmati" di sini memiliki arti bahwa seorang PK selalu meneliti
kualitas kerjanya sejak dari permulaan, melalui tahapan-tahapan
sebagaimana disebut di atas, dan melakukan pemeriksaan final sesaat
sebelum pekerjaan tersebut dinyatakan selesai dengan memuaskan.

PK biasanya memiliki rasa seni yang tinggi, sadar atau tidak sadar.
Sebab, mereka memiliki tingkat kepuasan kerja tersendiri, yang hanya
mereka sendiri bisa merasakannya.

Mereka puas melihat pekerjaan yang baru setengah jadi, karena di
tahap itu mereka melihat sebuah "karya seni" yang memantulkan
keindahan sebuah karya yang terbentuk dari bahan-bahan baku yang
semula tidak berbentuk apa-apa, menjadi sebuah produk bernilai tambah.

Para seniman umumnya adalah orang-orang jenis PK. Mereka kerja tidak
pernah dan tidak mau terburu-buru. Mereka juga umumnya merupakan
sosok-sosok perfeksionis, pribadi-pribadi yang selalu menghendaki
kesempurnaan karya. Oleh sebab itu, mereka selalu mengambil jedah
waktu setiap kali pekerjaannya mencapai tahapan 5%, 10%, 20% .. dan
seterusnya, sampai karyanya selesai.

Dan tidak hanya seniman. Kalau pemahat menikmati setiap gerakan
pahatnya memecah batu yang akan dijadikan patung, pelukis menikmati
setiap olesan kuasnya di kanvas, dan pemusik menikmati setiap bunyi
nada yang timbul dari tuts piano, senar gitar atau tabuhan perkusi,
maka seorang pemrogram komputer menikmati setiap baris pengkodean
programnya, seorang arsitek dan insinyur bangunan menikmati setiap
tahapan dari pembangunan proyeknya, seorang pengarang buku selalu
menikmati setiap alinea dari naskahnya.

Demikian seterusnya.
Dari mereka yang berjenis PK inilah biasanya dapat diharapkan hasil-
hasil karya yang bermutu tinggi, ditambah dengan nuansa keindahan
yang maksimal.

Bagaimana dengan mereka yang Penikmat Hasil (PH)?

Seorang Penikmat Hasil adalah orang yang bekerja berdasarkan tenggat
waktu (dead line). Tenggat waktu itu kalau bukan datang dari klien
atau pelanggannya, biasanya malah datang dari dirinya sendiri.

Figur PH memang figur yang bekerja berdasarkan target dan batas-batas
waktu. Mereka menginginkan produknya cepat jadi, dan selalu terburu-
buru ingin menyaksikan produk finalnya seperti apa.

Oleh sebab itu, PH tidak menikmati tahapan-tahapan pekerjaan
sebagaimana yang dilakukan oleh seorang PK. Kalau PK menginspeksi
progres pekerjaan dengan intuisi serta rasa estetika dan insting seni
yang tinggi, maka tidak demikian dengan orang PH.

PH bekerja mengacu pada kriteria. Setiap tahapan yang dianggap
memenuhi kriteria, sudah cukup untuk meloloskan produk ke proses
berikutnya. Tidak ada polesan tambahan, re-evaluasi mau pun
modifikasi ketika karya sedang dalam tahapan proses pembuatan.

Dikotomi PK vs PH menunjuk kepada perilaku individual, namun demikian
berpengaruh besar dalam semua bidang yang digeluti oleh masing-masing
orang, termasuk dalam bidang bisnis.

Tipe PH dalam perusahaan tampaknya akan lebih sesuai jika ditempatkan
pada unit-unit kerja produksi dan pelaksana, yang selalu dikejar dead
line, target-target tertentu, beroperasi berdasarkan SOP (Standard
Operation Procedures) yang baku, serta standar-standar kualitas.

Ini juga sebabnya mengapa pada belakangan ini, banyak perusahaan yang
mencantumkan persyaratan "berorientasi pada hasil" (Result Oriented),
bagi para kandidat yang ingin melamar posisi-posisi tertentu saat
rekrutmen.

Sementara orang PK, lebih cocok jika diberikan posisi-posisi yang
bersifat perencanaan, rancang bangun, serta penelitian dan
pengembangan (Litbang/RND= research and development) .

Dalam dunia usaha, alangkah baiknya bila orang-orang PK adalah juga
orang-orang yang berkepribadian tipe "D" (dominan, lihat artikel
sebelumnya "Sudah Sesuaikah Bidang Usaha Anda Dengan Tipe Kepribadian
Anda").

Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa figur PK merupakan orang-orang
yang cenderung perfeksionis, sehingga tidak merasa nyaman dengan
tenggat-tenggat waktu yang diberikan orang lain (klien, pelanggan dan
lain-lain).
Oleh karenanya, kelompok PK akan lebih baik kalau memilih bidang-
bidang usaha yang menempatkan kedudukan mentalnya lebih tinggi dari
pihak klien, seperti konsultan, pengacara, pengelola/pemilik lembaga
pendidikan atau pelatihan, serta penyelenggara seminar (yang bukan
semata-mata sebagai event organizer). Yang paling gamblang adalah
berkecimpung di "kuadran S" (self employed), sebagai seniman
individual di bidang seni lukis atau seni rupa.

Di lain pihak kelompok PH yang sudah terbiasa bekerja di bawah
tekanan tenggat waktu, sangat ideal kalau dirinya juga
berkepribadian "S" (service=pelayanan) . Dengan demikian, kelompok
ini akan sangat sukses manakala harus melayani kliennya secara penuh.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo. com
Web: http://www.gacerind o.com
Blog: http://rusmanhakim. blogspot. com
Mobile: 0816.144.2792

Murid si pematung

Murid Si Pematung 
Alkisah, di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung yang sangat terkenal di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu. Bahkan, di dalam istana kerajaan hingga taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan patung karya si seniman itu.

Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya. Bahkan, ia juga diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung.

Sejak hari itu, mulailah dia belajar dengan tekun, mengukur ketepatan bahan adonan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibuat patung, dan berbagai kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam alat-alat yang biasa dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.

“Guru, bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin mencoba membuat patung dengan memakai alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya bisa menyamai patung buatan Guru.”

“Silakan pakai, kamu tahu dimana alat-alat itu berada kan? Ambil saja dan pakailah,” jawab sang guru sambil tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata,

“Guru, saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, memakai alat-alat yang biasa dipakai Guru. Kenapa hasilnya tetap tidak sebagus patung yang Guru buat?”

“Anakku, gurumu ini belajar dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda, mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi tidak pernah pula berhenti mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu yang engkau pinjam itu yang kamu butuhkan untuk menjadi seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk menekuninya yang harus engkau punyai. Dengan begitu, lambat laun engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik.”

“Terima kasih Guru, saya berjanji akan terus berlatih, mohon Guru bersabar mengajari saya.”

Pembaca yang berbahagia,
Untuk menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan talenta semata. Kita butuh proses belajar dan ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada tangan-tangan terampil dan terlatih yang menggerakkannya.

Demikian pula dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang gemilang, ada harga yang harus kita bayar! Apapun bidang yang kita geluti, apapun talenta yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya hingga tercapai kesuksesan yang membanggakan! !!

Regard
 Rian Tirta

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Eagle Belt Buckles